Dimulai bangun dengan setengah terpaksa, Mika memulai hari ini dengan lebih tenang, menyiapkan sahur untuk suami memang termasuk kewajibannya yg baru. Meskipun mata masih mengantuk karena baru tidur jam 3.15, Mika tetap harus bangun, karena waktu sudah menunjukan jam 3.39, pilihannya hanya dua, segera bangun atau tidak akan sahur karena ketiduran..
Menyingkingkirkan selimut dan dari tempat tidur adalah pilihannya. Segera membangunkan suami dan menyiapkan menu sahur dilakukan dengan hati senang, bangga karena bisa menyiapkan makan sahur bagi suami. Setelah teh hangat selesai dihidangkan, giliran makanan dibuat, setelah matang, segera menyiapkan di piring dan dibawa ke kamar makanan yang sudah siap disantap tersebut. Makanan dibawa ke kamar, dengan perasaan "kasian si bebi mungkin lelah, biar makannya di kamar aja deh, toh semalam gajadi "mainan" karena si bayi ga tidur2, untuk menebus rasa bersalah, makanan ini ku antar ke kamar aja".
Tapi yang terjadi ketika makanan diantar ke kamar, si bebi berkata "ya Alloh pake diambilin, dibawa ke kamar, kaya bocah aja".
Tiba-tiba "PRANG", bukan suara piring atau gelas berisi teh yang jatuh, melainkan hati Mika yang hancur.
Dengan segera membawa piring berisi makanan (yang disiapkan dengan senang hati dan hayalan menyenangkan saat menyajikan, meskipun hanya nasi & telur dadar) keluar kamar dan menaruh di meja luar.
Makan sendiri di luar kamar dengan perasaan tak menentu, tak juga bisa menangis (katanya sudah terlalu sering dia kasar tapi tidak menyadari, hingga air mata pun mengkin sudah lelah untuk keluar), dan gak tau harus berbuat apa atau bicara apa, kecuali bercerita tentang ini, katanya hanya sekedar ingin mengeluarkan isi hati, karena kalau tidak dikeluarkan hanya akan menjadi penyakit hati
Happy fasting Mika & suami, semoga bisa sahur dengan lebih happy dan saling menghargai
Powered by FitriKerenBanged Telkomsel BlackBerry®
Tidak ada komentar:
Posting Komentar